Yuk, wisata rohani sambil menyusuri jejak Nommensen di tanah Batak

Kabupaten Tapanuli Utara memang populer dengan wisata rohani. Salib Kasih, lokasi wisata sekaligus ibadah bagi umat Kristiani, menjadi destinasi yang tak terlewatkan para wisatawan.

Lokasinya berada di Desa Situngkir, Simorangkir Julu. Sekitar 10 menit saja perjalanan ke destinasi wisata rohani Salib Kasih dari pusat Kota Tarutung, Ibu Kota Tapanuli Utara. Atau, berkisar satu jam dari Bandara Silangit.

Hamparan pohon pinus yang berbaris rapi seakan menyambut para wisatawan saat memasuki Salib Kasih yang juga jadi landmark wisata rohani Tapanuli Utara. Patung Nommensen juga tak ketinggalan seolah menyapa pengunjung di depan gerbang masuk.

Salib Kasih merupakan sebuah monumen berupa salib dengan ukuran yang besar dan menjulang tinggi hingga 31 meter. Dari kejauhan pun sudah nampak kokoh Salib yang berdiri sejak 1933 silam ini dan disanggah tiga tiang sebagai lambang Trinitatis.

Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan menjelaskan, keberadaan Salib Kasih untuk mengenang perjalanan misionaris asal Jerman, Ingwer Ludwig Nommensen. “Salib Kasih bukan dibangun begitu saja, ada sejarah di sana, bagaimana kristen masuk ke tanah Batak,” katanya kepada Tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019, awal Agustus lalu.

Di puncak Bukit Siatas Barita yang sekarang jadi lokasi Salib Kasih, Nommensen menanatap Rura (Lembah) Silindung pada 11 November 1863. Ia menyatakan harapan dan doanya untuk hidup dan mati di tanah Batak.

Biasanya, menurut Nikson, wisatawan yang datang ke Salib Kasih memang ingin melakukan ibadah. Akhir pekan menjadi waktu Salib Kasih ramai pengunjung.

Mayoritas yang berkunjung ke Salib Kasih adalah kelompok-kelompok jemaat gereja, baik dari Sumatra Utara maupun dari luar termasuk Jakarta.

Di puncak Salib Kasih terdapat deretan tempat duduk membentuk setengah lingkaran berlapis keramik. Ada pula altar yang biasa para pendeta gunakan untuk memimpin ibadah dengan latar belakang pemandangan Kota Tarutung dari ketinggian.

Suasana alam dan udara yang sejuk menjadi perpaduan pas untuk beribadah di Salib Kasih.

Untuk sampai ke puncak, pengunjung bisa memilih dua opsi. Jika ingin menikmati alam sembari berfoto ria, bisa jalan kaki sekitar 30 sampai 40 menit.

Atau, untuk yang tak terbiasa jalan mendaki, bisa menggunakan jasa ojek penduduk sekitar yang memakan waktu 10 menit. Biaya ojekpun cukup ekonomis, Rp 15.000 sekali jalan.

Damai Br Panggabean, pengunjung Salib Kasih, bilang, wisata rohani di Salib Kasih menjadi pilihan tepat bagi mereka yang mencari ketenangan beribadah. Namun, juga cocok bagi wisatawan yang mengincar lokasi foto Instagramable.

“Bagus nian ini, ibadah sekaligus liburan karena udara bersih, alam bagus. Jadi bisa paket komplet,” ujar Damai.

Sebelum sampai ke puncak Salib Kasih, pengunjung akan melihat deretan kenang-kenangan dari para pengunjung yang pernah ke tempat ini di area Taman Kenangan.

Kenang-kenangan tersebut berbentuk seperti nisan terbuat dari batu, kayu, atau keramik yang bertuliskan nama-nama jemaat gereja yang pernah berkunjung ke Salib Kasih. kesana. Dari situ, pengunjung bisa tahu bahwa pengunjung Salib Kasih berasal dari seluruh Indonesia.

Area suvenir juga tak ketinggalan tersedia di Salib Kasih. Mulai kaos, gelang, kalung, topi, mainan, hingga ulos.

Kelak, Nikson mengatakan, Salib Kasih bakal menjadi one stop tourism. Ada taman buah dan bunga, homestay, rumah pohon, dan lainnya. “Selain ibadah, orang juga bisa liburan,” imbuhnya.

Dari Salib Kasih, pengunjung bisa melanjutkan wisata rohani ke Gereja Dame, gereja pertama di tanah Batak. Letaknya di Desa Huta Dame, sekitar dua kilometer dari Kota Tarutung.

Gereja Dame dibangun oleh Nommensen dan penduduk Huta Dame pada 1864 silam. “Sampai saat ini, bentuk bangunannya masih asli seperti ketika pertama kali berdiri,” kata Binhot Aritonang, Kepala Dinas Pariwisata Tapanuli Utara.

Tanah tempat Gereja Dame berdiri merupakan pemberian Raja Amandari Lumban Tobing sebagai ucapan terima kasih lantaran Nommensen membantu menyembuhkan istrinya yang sakit keras kala itu. Di tanah itu pula, Nommensen membangun perkampungan yang dia beri nama Huta Dame atawa kampung yang damai.

 

 

Sumber: kontan.co.id

Leave a Reply

Scroll Up