Warga Dairi Tak Peduli Wisata Halal Gubsu Edy Rahmayadi

Gerimis yang turun, tidak menyurutkan langkah rombongan anak muda itu menuju Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Sebanyak 30 muda-mudi yang bergabung di Beat Owner Medan Club (BOM’C) itu berkendara beriring, mengikuti kelokan jalan. Sesekali, mereka singgah di titik tertentu untuk swafoto dengan latar Danau Toba, Minggu 1 September 2019.

Mereka tidak peduli dengan wacana wisata halal yang dikemukakan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial.

“Kami kan mau wisata, Bang. Melihat pemandangan, keindahan Danau Toba. Pemandangan ini kan halal. Kalau masalah adat istiadat, intinya saling menghormati saja. Tidak ada masalah,” kata Yehezkiel, pimpinan rombongan.

Ditambahkan pemuda berusia 21 tahun itu, mereka datang dari Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 180 Km mereka tempuh untuk sampai ke Silahisabungan. Semua menggunakan kenderaan roda dua, jenis beat. BOM’C mereka bentuk Juli 2018.

Ali Imran, rekan Yehezkiel menambahkan, mereka tidak terusik dengan adat istiadat dan budaya yang ada di Silahisabungan.

“Kita kan pengunjung, Bang. Tentu harus menghormati budaya yang kita temui. Bagi kami tidak ada masalah, sepanjang semua saling menghormati. Kalau ada jualan (daging babi), kalau bisa jangan terlampau nampak saja,” katanya.

Sementara Ferry, rekan mereka yang mengaku telah tiga kali berwisata ke Silahisabungan, menambahkan, kebinekaan harus tetap dijaga. Ia hanya meminta agar Danau Toba tidak lagi tercemar dengan kotoran hewan peliharaan, terutama babi.

Ini yang seharusnya diperhatikan pemerintah, bukan melontarkan wacana wisata halal. Kita tolak itu

Terkait kebersihan di sekitar kawasan Danau Toba, Jala Sidabariba, raja turpuk (pimpinan) Sidabariba Raja ditemui Tagar di kediamannya, Minggu 1 September 2019, menegaskan tidak ada lagi ternak babi yang bebas berkeliaran di Silahisabungan.

“Saya bisa jamin. Tidak ada yang seperti dulu. Sekarang sudah diternakkan dengan baik. Dalam kandang. Kotorannya tidak ada yang mencemari danau. Itu dikumpulkan, dibuat kompos,” tegas pria bertubuh tegap berusia 34 tahun itu.

Sementara itu, Antonius Rumasondi, raja turpuk Sondi Raja ditemui terpisah mengatakan, tidak perlu adanya wisata halal di kawasan Danau Toba.

Pemerintah harus memelihara warisan budaya yang ada, bukan mengemukakan wacana yang menimbulkan polemik. Adat dan budaya harus dihormati, dilestarikan, karena merupakan aset bangsa dalam kebinekaan.

“Ini contoh budaya yang harus kita lestarikan. Jangan sampai hilang,” kata Antonius sembari menunjukkan sekumpulan anak yang sedang latihan menari, untuk persiapan kegiatan 1.000 tenda yang akan digelar minggu depan di Silahisabungan.

Dipaparkan Antonius, anak-anak itu bernaung dalam Sanggar Tari Gracia. Satu dari tiga sanggar tari yang ada di Silahisabungan. Sudah 10 tahun berdiri, sanggar tari itu dikatakannya minim perhatian dari pemerintah. Semua peralatan dan kebutuhan kegiatan, swadaya.

“Peralatan gendang sumbangan sukarela Pak Lambok Situngkir. Pakaian adat, disediakan masing-masing. Tenaga pengajar, istri saya, sukarela. Ini karena kecintaan kita pada warisan budaya. Kita tidak ingin era digital sekarang ini menurunkan antusias generasi muda untuk melestarikan budaya. Ini yang seharusnya diperhatikan pemerintah, bukan melontarkan wacana wisata halal. Kita tolak itu,” kata pria berumur 50 tahun tersebut.

Sementara itu, Lirma boru Situmorang, pengusaha salah satu rumah makan di Silahisabungan, menanggapi wacana wisata halal mengatakan, tanpa wacana itu, makanan yang mereka sajikan adalah halal.

“Kami menyediakan nila, manuk napinadar (ayam dengan masakan khas Batak), gulai, lobster. Tidak ada (makanan) babi di sekitar sini. Anggota kita yang masak pun agama muslim. Jadi tidak perlu wisata halal itu. Halalnya di Silahisabungan ini,” kata istri dari marga Sidebang itu mengakhiri.

 

sumber: tagar.id

Leave a Reply

Scroll Up