Di kota tua Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, para peziarah datang untuk larut dalam kekhusyukan doa. Sepanjang Ramadhan dan Lebaran ini, ribuan umat Muslim silih berganti menapaki tangga terjal di kota tempat sejarah awal masuknya Islam di Nusantara itu.

 

Salah satunya ke Makam Sheikh Mahmud, salah satu dari ratusan makam kuno yang ditemukan di Barus. Kalangan ulama dan penutur sejarah meyakini bahwa sejumlah makam kuno di Barus bertarikh 40-an Hijriah.

 

Ada tiga tempat yang paling sering dikunjungi para peziarah yang datang di Barus, yakni Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara, Makam Mahligai, dan Makam Papan Tinggi. ”Kami datang ke Barus khusus untuk berziarah ke Makam Papan Tinggi. Kami ingin menapak tilas titik awal penyebaran Islam Nusantara,” kata Parmohonan Nasution (60), warga Kota Medan, Sabtu (8/6/2019).

 

Panas terik matahari tak menyurutkan niat Parmohonan dan 12 anggota keluarganya berziarah ke Makam Papan Tinggi. Setelah berjalan beberapa meter, tampak bukit setinggi 200 meter dari permukaan laut dengan 800 anak tangga. Pemandangan Samudra Hindia dengan kota tua Barus yang terlihat terhampar cukup mengobati lelah selama menapaki anak tangga itu.

 

Di kompleks makam, para peziarah duduk bersila sembari memanjatkan doa. Mereka membentuk formasi mengelilingi makam Sheikh Mahmud yang panjangnya sekitar 7 meter. Beberapa peziarah menabur bunga dan memeluk batu nisan kuno setinggi 1,5 meter dengan ukiran tulisan huruf Arab.

 

Titik nol

Kepala Desa Pananggahan Pelerius Simatupang mengatakan, saat libur Lebaran, lebih dari 2.000 peziarah datang ke Papan Tinggi setiap hari. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. ”Jumlah itu semakin banyak sejak dibangun Tugu Kilometer Nol di Barus,” katanya.

 

Keberadaan Barus sebagai titik awal peradaban Islam semakin masyhur setelah Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara pada Mei 2017. Lokasinya berada di tepi pantai, tepatnya di bekas dermaga tua di Barus yang diyakini sebagai tempat pertama pendakwah menginjakkan kaki di Nusantara.

 

Selain di Makam Papan tinggi, Makam Mahligai juga dikunjungi banyak peziarah. Ada 215 makam kuno di kompleks makam itu. Banyak orang meyakini makam itu bertarikh 48 Hijriah atau sekitar tahun 662 Masehi. Keyakinan ini didasarkan pada pendapat sejarawan Dada Meuraxa, tetapi berbeda dengan pendapat sejarawan lain yang meyakini beberapa makam berusia lebih muda, yaitu sekitar tahun 1397.

 

Juru Pelihara Makam Mahligai Azril Siambaton mengatakan, salah satu makam paling tua di sana adalah Makam Sheikh Rukunuddin. Adapun makam Sheikh Mahmud di Papan Tinggi diyakini bertarikh 44 Hijriah atau sekitar 658 Masehi.

 

Menurut Azril, para saudagar sekaligus pendakwah dari Timur Tengah pada zaman dulu berlomba-lomba datang ke Barus. Saat itu, konon Barus termasyhur dengan komoditas unggulannya, yakni kapur barus, kemenyan, merica, dan kemiri. ”Kami meyakini jasad Firaun di Mesir diawetkan dari kapur barus yang didatangkan dari Barus,” katanya.

 

Keyakinan tentang makam kuno yang sudah ada sejak abad ke-7 di Barus itu membuat masyarakat mendorong pembangunan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara di Barus.

 

Khairil Anwar Simamora (40), pengelola hotel di Barus, mengatakan, jumlah wisatawan yang datang ke Barus semakin banyak setelah ditetapkan menjadi kilometer nol peradaban Islam Nusantara. Namun, kilometer nol ini menjadi pembahasan dan perdebatan setiap hari.

 

Perdebatan

Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, mengatakan, keyakinan tentang Barus sebagai titik awal peradaban Islam Nusantara menjadi kepercayaan lokal. ”Kepercayaan itu sulit dilawan meski dengan fakta arkeologi dan sejarah,” katanya.

 

Perdebatan tentang titik nol peradaban Islam Nusantara telah dimulai paling tidak sejak tahun 1963. Saat itu, sejarawan Dada Meuraxa mengajukan hipotesis bahwa peradaban Islam ada di Barus sejak tahun 48 Hijriah. Ia mendasarkan pendapatnya pada pembacaan tahun nisan Sheikh Rukunuddin.

 

Namun, kata Ichwan, berdasarkan penelitian epigraf Perancis, Ludvic Kalus, di nisan itu tertulis Rukn Al-Din wafat pada malam Senin tanggal 23 bulan Safar tahun 800 Hijriah, bertepatan dengan 15 November 1397. Bentuk nisan itu juga menandakan makam itu berasal dari abad ke-14 Masehi. Artinya, jauh lebih tua dari hipotesis Dada.

 

Kendati demikian, peradaban Timur Tengah yang lebih tua dari nisan memang banyak ditemukan dalam penggalian di Barus, antara lain teko kaca, botol, dan cap dengan tulisan Arab dari abad ke-9 dan ke-11. Dari penghasil kapur barus yang masyhur, Barus sekarang menjadi kota ziarah peradaban Islam di Nusantara. Kota tua Barus pun kini termasyhur kembali. (NIKSON SINAGA)

 

Sumber : Kompas.id

Author: dKaldera

Geologist like travel

Scroll Up