Air suci yang dikenal dengan istilah “Mual” leluhur induk marga-marga batak tersimpan rapi di Ruma Bolon Komunitas Ruma Hela Raja Isumbaon di Pinggang Gunung Sakral Orang Batak, Pusuk Buhit tepatnya di Desa Simullop Kecamatan Pangururan, Samosir, Selasa (9/7/2019).

“Pusuk Buhit Kilo Meter Nol Bangso Batak. Samosir, benteng persdaban terakhir bangso Batak”, demikian kata Dr Hinca Panjaitan, Pembina Komunitas Ruma Hela.
Banyak stigma buruk yang sengaja diciptakan oknum-okunum bahkan lembaga tertentu tentang Batak dan budayanya, terlebih berkaitan dengan Gunung Sakral orang Batak, Pusuk Buhit.  Pandangan itu pun terpatahkan ketika berkunjung ke Ruma Hela.

Setiap tahun, rangkaian kegiatan yang sarat dengan nilai luhur Budaya Batak digelar di sana. Bahkan, dinamai dengan Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak yang merupakan even satu-satunya di dunia dan Indonesia.
Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang-orang yang menangkap cerita-cerita miring. Berkunjung ke Ruma Hela, tentu wawasan pun terbuka, dan mengetahui bagaimana sesungguhhnya nilai yang diajarkan turun-temurun oleh leluhur Batak.

Paradigma buruk tidak terbukti, sebagaimana berjalannya rentetan-demi rentetan kegiatan yang dibalut judul Festival Edukasi Leluhur Batak “Gondang Sabangunan Si Raja Batak”. Semua orang diperlakukan baik tanpa memandang latar belakang dan taraf ekonomi, jabatan atau yang biasa disebut kelas sosial.

Bersatu di dalam kekusukan, berdoa meminta kebaikan lewat gondang Sabangunan yang ditabuh hingga Malam hari. Uniknya, pun doa untuk persahabatan bangsa-bangsa dan kedamaian negara dipanjatkan dari kaki Gunung Pusuk Buhit itu.
Dua ekor kerbau disembelih putih dan hitam, satu ekor kambing putih dan beberapa jenis ayam yang diperlukan sebagai media doa-doa untuk Tuhan Maha Pencipta dan para leluhur Batak. Hasil bumi, berupa buah-buahan dan tumbuhan ditata sedemikian rupa sebelun doa-doa dipanjatkan.

Kegiatan berlangsung khusuk, peserta ritus berpengharapan yang terbaik serta bersyukur atas segala berkat yang telah diterima melalui rangkaian kegiatan ritus. Tradisi unik yang turun tenurun ini termasuk lama hilang dari Warga Batak keseluruhan. Tetapi, tidak bagi Ruma Hela Simullop. Mereka teguh menjunjung Ajaran leluhurnya tanpa berbenturan dengan agama yang dianut.
“Yah, leluhur-leluhur juga sudah hidup pada jaman agama. Namun, tidak disebut seperti agama yang dikenal saat ini”,kata Ketua Komunitas Ruma Hela Ir Hendri Naibaho.

Tetap menjadi Batak yang kemarin dan hadir pada era saat ini”, demikian yang dapat ditangkap dari orang-orang, baik muda pun kaun tua yang tergabung dalam Komunitas Ruma Hela ini.

Tetua-tetua mengumpulkan peralatan spritual. Seperti halnya yang dilakukan Nurhayati Situmorang, beberapa waktu lalu dia sudah bernazar dengan menjemput beberapa ‘Mual’ (air) leluhur Batak, seperti dari Pulau Mursala, Sibolga dan tempat lainnya. Bagi orang Batak Mual merupakan simbol kesucian dan kehidupan baik secara jasmani maupun rohani.
Nurhayati Situmorang, satu dari orang yang terpilih dan memiliki talenta berkomunikasi dengan roh leluhur mengatakan, sebagai simbol penghormatan kepada nenek moyang Batak seperti Saribu Raja, dirinya telah melakukan beberapa ritual. Tujuanya, secara spritual kehadiran para leluhur pada Gondang Sabangunan Si Raja Batak nanti. Nantinya, para leluhur Batak melalui “Hasorangan” (orang-orang yang memiliki talenta menyambung lidah para leluhur) dapat berkomunikasi secara lisan dengan para “Siminik”, keturunannya.

Pada, “Gondang Ni Opputa Si Raja Batak” kali ini ramai dihadiri keturuanan “Pomparan ni Si Raja Batak” dari delapan penjuru mata angin.
Adapun goal yang diharapkan melalui acara ini antara lain, agar generasi Batak khususnya kaum milenial saat ini semakin dapat mengetahui hingga memiliki jati dirinya. Sisi lain, seperti halnya selama ini mewujudkan Geopark Kaldera Toba menjadi Geopark Global Network Unesco.
Wisata edukasi leluhur batak ini memang diselenggarakan Komunitas Ruma Hela setiap tahun (sejak 2016) dengan target menjadi kalender tetap pariwisata nasional dan internasional. Komunitas Ruma Hela melalui ranfkaian yang diadakan tentu menghormati Tuhan Sang Pencipta lengkap dengan segala ciptannya untuk dirawat dan kembangkan. Pun nilai-nilai budaya yang diwariskan Sang Leluhur untuk kesejahteraan manusia.
Mereka tak pernah lelah berkarya, melanjutkan kreativitas menghormati Tuhan Sang Pencipta lengkap dengan segala ciptannya untuk kita rawat dan kembangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan Sang Leluhur untuk kesejahteraan manusia.
Pembina Komunitas Ruma Hela, Dr Hinca Panjaitan menyampaikan sengaja memasang frame nama leluhur batak untuk mengajak orang-orang yang hadir berpikir.
“Saya tidak mau menjelaskan benar atau salahnya, tapi biarin saja gitu. Target festival ini agar semua orang Batak tahu lagi (tentang tarombo), karena orang di Pangururan sendiri belum tentu semuanya tahu. Karena sekarang semua yang diajarkan di sekolah adalah hal-hal modern,” kata Hinca kepada wartawan.

Hinca menyampaikan, sengaja melibatkan ratusan orang Muda Katolik seputaran Pusuk Buhit, yang masih kental dengan nilai-nilai leluhur. Mereka ditemoah menjadi anak muda yang mengetahui nilai-nilai leluhur dan penjaga benteng terakhir kilometer nol orang Batak.

“Kecil-kecil anaknya, tapi mereka-lah investasi jangka panjang paling mahal untuk menjaga benteng terakhir kilometer nol orang Batak,” Jelas Hinca.
Bagi Hinca, tidak ada alasan mengulur waktu menyelamatkan nilai luhur Batak. Meski dengan hal kecil, namun tidak kehilangan makna apalagi khususnya kaum milenial sudah waktunya menemukan jati diri dan merawat nulai luhur Batak.

“Dengan menghayati nilai-nilai luhur Batak dalam kehidupan sehari-hari, tentua mereka telah bersumbangsih membengengi negara ini”,ujar Politisi yang kental dengan Kebatakan ini).

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Festival Edukasi Leluhur, Benteng Terakhir Peradaban Budaya Batak, https://medan.tribunnews.com/2019/07/09/festival-edukasi-leluhur-benteng-terakhir-peradaban-budaya-batak.
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution

Scroll Up